REOG – Cerita Cinta dan Kekuasaan

reog-_chy-61Gerimis masih rintik-rintik membasahi Kota Ponorogo, tepatnya di Alon-alon Kota Ponorogo, Jawa Timur. Pada hari itu, 27 Desember 2008, merupakan rangkaian dari kegiatan Grebeg Suro yang dilaksanakan Pemerintah kota Ponorogo. Di situ dilaksanakan festival Reog XV yang dilaksanakan secara Nasional setiap tahunnya. Para peserta yang berjumlah 52 kelompok tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Tidak hanya dari kota di Jawa Timur saja, bahkan pesertareog-_chy-7 yang hadir berasal dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Mereka mengikuti acara yang mampu menarik animo masyarakat yang sangat besar ini.

Kesenian Budaya Reog berasal dari Ponorogo yang dianggap sebagai kota asal budaya tersebut. Dalam berbagai versi yang menceritakan Reog, terdapat satu versi cerita yang paling dikenal. Yaitu cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada Masa Bhre Kertabumi yang merupakan Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada Abad ke-15. Pertunjukan seni Reog merupakan “sindiran” kepada Raja Bhre Kertabumi dan kerajaannya oleh Ki Ageng Kutu. Hal ini dilakukannya untuk membangub perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran reog.

Dalam pertunjukan Reog, terdapat penampilan topeng berbenruk kepala singa reog-_chy-31yang dikenal sebagai “Singa Barong”, raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabumi dan diatasnya terdapat bulu-bulu merak yang menyerupai kipas raksasa sebagai simbol pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur segala gerak-geriknya. Jatilan, diperankan oleh minimal 8 penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan Kerajaan Majapahit. Juga sekelompok yang berperan sebagai Warok, Ganong, Warok Sepuh dan Kelono atau seseorang yang memerankan sebagai Raja. Topeng Singa Barong sendiri harus ditopang oleh seseorang dengan menggunakan giginya. Berat dari topeng tersebut mencapai 50kg. Kemampuan ini diperoleh selain dengan latihan yang berat, juga dipercaya dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa. Hal itulah yang menyebabkan masih kuatnya mistik dari pertunjukan tersebut.

Namun, terdapat versi resmi alur cerita Reog yang adalah cerita tentang Rajareog-_chy-41 Ponorogo yang berniat melamar Putri Kediri, Dewi Songgolangit. Tetapi, ditengah perjalanannya, Sanga Raja dicegat oleh Raja Singabarong. Pasukan ini terdiri dari merak dan singa. Sedangkan dari Kerajaan Ponorogo yaitu Raja Kelono dan Bujanganom, wakilnya. Mereka dikawal oleh warok-warok, yang dalam penampilannya menggunakan baju hitam-hitam, dan memiliki kekuatan yang mematikan. Tarian dari pertunjukan Reog merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo yang keduanya saling mengadu ilmu hitam.

Masyarakat Ponorogo masih mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai warisan budaya yang sangat kaya. Seni Reog merupakan kreasi manusia yang tercipta dengan adanya kepercayaan yang terjaga secara turun temurun. Syarat-syarat upacara yang digunakan tidak mudah dipenuhi oleh orang-orang awam tanpa adanya garis keturunan yang jelas, yang masih menganut garis keturunan Parental dan hukum adat yang masih berlaku. (CHA)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: