Yadnya Kasada Masyarakat Tengger

kasodo-bromo-08-1Upacara Yadnya Kasada atau yang lebih dikenal dengan Upacara Kasada (Kasodo), merupakan ritual umat Hindu yang selalu diadakan setiap tahun pada tiap bulan purnama dibulan Kasodo menurut penanggalan Jawa. Upacara yang berlokasi di Pura Lurah Ponten yang berada di bawah kaki gunung Bromo dilaksanakan mulai tenga malam sampai dini hari pada hari ke-14 di Bulan Kasodo. dilanjutkan ke Puncak gunung Bromo yang merupakan Puncak dari ritual tersebut, yaitu larung sesaji.

Menurut cerita, daerah Tengger yang merupakan wilayah dari Kerajan Majapahit merupakan tempat suci, karena mereka dianggap abdi-abdi kerajaan Majapahit. Kasodo berawal pada masa Pemerintahan Dinasti Brawijaya dari Kerajaankasodo-bromo-08-2 Majapahit. Sang permaisuri yang memiliki anak perempuan bernama Roro Anteng, yang memiliki pasangan seorang pemuda yang berasal dari kasta Brahma yang bernama Joko Seger. Pada saat Kerajaan Majaphit mengalami kemunduran yang bersamaan dengan mulai menyebarnya agama Islam ke Pulau Jawa, beberapa punggawa Kerajaan dan kerabatnya memutuskan untuk pindah ke wilayah Timur, sedangkan Rara Anteng dan Joko Seger serta beberapa pengikutnya yang lain pindah ke kawasan Pegunungan Tengger.kasodo-bromo-08-3

Pasangan tersebut membangun pemukiman dan kemuadian memerintah di kawasan Tengger dengan sebuta Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger atau Penguasa Tengger Yang Budiman. Sebutan Tengger berasal dari nama Rara Anteng dan Jaka Seger. Kata Tengger juga berarti Tenggering Budi Lihur atau pengenalan moral tinggi, simbol, perdamaian abadi.

Kehidupan masyarakat Tengger dari waktu ke kasodo-bromo-08-4waktu hidup makmur dan damai. Namun, sang penguasa tidak merasa bahagia. Hal ini disebabkan karena setelah sekian lama hidup berpasangan, Rara Anteng dan Joko Seger belum juga diberi keturunan. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk naik ke Puncak gunung Bromo dan bersemedi dengan penuh kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa agar diberi keturunan.

Seketika itu pula terdengar suara gaib yang mengatakan semedi yang mereka lakukan akan terkabul dengan syarat bila mendapatkan keturunan, anak bungsu harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo. Setelah mereka menyanggupi dan mendapatkan 25kasodo-bromo-08-5 orang anak keturunanya, Rara Anteng da Joko Seger ingkar janji, karena mereka tidak rela kehilangan anak-anaknya. Dewa menjadi marah dan akan menimpakan malapetaka yang kemudian terjadilah suatu peristiwa. Keadaan seketika menjadi gelap gulita dan Kawah Gunung Bromo menyemburkan api.

Anak bungsu mereka, Kesuma, lenyap terjilat api dan masuk ke

Hingga saat ini, masyarakat Tengger secara turun temurun masih melaksakan ritual Kasodo yang diadakan pada hari ke-14, mereka melakukan sembahyang di Pura Lurah Ponten dan membuang sesaji di Kawah Gunung Bromo.(CHY)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: